RSS

LANDASAN SOSIAL BUDAYA PENDIDIKAN

15 Okt

Sosial budaya merupakan bagian hidup manusia yang paling dekat dengan kehidupan sehari-hari. Setiap kegiatan manusia hampir tidak pernah lepas dari unsur sosial budaya. Social mengacu kepada hubungan antarindividu, antarmasyarakat, dan individu dengan masyarakat. Aspek sosial ini merupakan aspek individu secara alami, artinya aspek itu telah ada sejak manusia dilahirkan. Budaya mengacu tentang apa yang dikerjakan dan cara mengerjakannya serta bentuk yang diinginkan. Sama halnya dengan aspek sosial, aspek budaya sangat berperan dalam proses pendidikan. Malah dapat dikatakan tidak ada pendidikan yang tidak dimasuki unsur budaya. Materi yang dipelajari, kegiatan-kegiatan serta bentuk-bentuk pendidikan merupakan unsur budaya pendidikan.

A. SOSIOLOGI DAN PENDIDIKAN
Menurut etimologi sosiologi berasal dari bahasa Latin yaitu kata socious yang berarti teman, dan logos berasal dari bahasa Yunani yang berarti pengetahuan. Pengertian tersebut diperluas menjadi ilmu pengetahuan tentang pergaulan hidup manusia atau masyarakat.
Definisi sosiologi menurut para ahli :
1. Menurut Roucek dan Warren sosiologi adalah ilmu yang mempelajari hubungan manusia dalam kelompok.
2. Selo Soemardjan dan Soelaiman Soemardi menyatakan bahwa sosiologi adalah ilmu yang mempelajari struktur sosial dan proses sosial, termasuk perubahan sosial. Struktur sosial adalah keseluruhan jalinan antara unsur-unsur sosial, lembaga-lembaga sosial, kelompok-kelompok sosial, dan lapisan-lapisan sosial.
3. August Comte berpendapat bahwa sosiologi adalah ilmu terutama mempelajari manusia sebagai makhluk yang mempunyai naluri untuk senantiasa hidup bersama dengan sesamanya.
4. Menurut Abu Ahmadi Objek penelitian sosiologi adalah tingkah laku manusia dalam kelompok. Sudut pandangnya ialah memandang hakekat masyarakat, kebudayaan dan individu secara ilmiah. Sedangkan susunan pengetahuan dalam sosiologi terdiri atas konsep-konsep dan prinsip-prinsip menganai kehidupan kelompok sosial, kebudayaan dan perkembangan pribadi.

Sosiologi dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu sosiologi umum yang menyelidiki gejala sosio-kultural secara umum, dan sosiologi khusus, yaitu pengkhususan dari sosiologi umum yang menyelidiki aspek kkehidupan sosio-kultural secara mendalam, salah satunya adalah sosiologi pendidikan.
Berdasarkan definisi-definisi di atas dapat disimpulkan bahwa Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari hubungan antara manusia dalam kelompok-kelompok dan struktur sosialnya. Sosiologi mempunyai ciri-ciri sebagai berikut :
1. Empiris, adalah ciri utama sosiologi sebagai ilmu, karena bersumber dan diciptakan dari kenyataan yang terjadi di lapangan.
2. Teoretis, adalah peningkatan fase penciptaan tadi yang menjadi salah satu bentuk budaya yang bisa disimpan dalam waktu lama dan dapat diwariskan pada generasi muda.
3. Komulatif, sebagai akibat dari penciptaan terus-menerus sebagai konsekuensi dari terjadinya perubahan di masyarakat, yang membuat teori-teori itu akan berkomulasi mengarah kepada teori yang lebih baik.
4. Nonetis, karena teori itu menceritakan apa adanya tentang masyarakat beserta individu-individu di dalamnya, tidak menilai apakah hal itu baik atau buruk.

Pada dasarnya pendidikan merupakan suatu proses mendidik, yakni proses dalam rangka mempengaruhi peserta didik agar mampu menyesuaikan diri sebaik mungkin dalam lingkungannya sehingga akan menimbulkan perubahan dalam dirinya, yang dilakukan dalam bentuk pembimbingan, pengajaran, dan atau pelatihan. Sehingga pengertian dari sosiologi pendidikan, yaitu ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang hubungan dan interaksi manusia, baik itu individu atau kelompok dengan sekolah sehingga terjalin kerja sama yang sinergi dan berkesinambungan antara manusia dengan pendidikan.

Salah satu bagian sosiologi yang dapat dipandang sebagai sosiologi khusus adalah sosiologi pendidikan. Menurut Wuradji (1988), sosiologi pendidikan meliputi :
1. Interaksi guru-siswa.
2. Dinamika kelompok di kelas dan di organisasi intra sekolah.
3. Struktur dan fungsi sistem pendidikan.
4. Sistem-sistem masyarakat dan pengaruhnya terhadap pendidikan.

Proses sosial merupakan suatu cara berhubungan antarindividu atau antarkelompok atau individu dengan kelompokyang menimbulkan bentuk hubungan tertentu. Proses social atau sosialisasi ini menjadikan seseorang atau kelompokyang belum tersosialisasi atau masih rendah tingkat sosialnya menjadi tersosialisasi atau sosialisasinya semakin meningkat. Proses sosial dimulai dari interaksi sosial dan dalam proses sosial itu selalu terjadi interaksi sosial. Faktor-faktor yang mendasari interaksi dan proses sosial, yaitu :
1. Imitasi atau peniruan, bisa bersifat positif dan bisa pula bersifat negatif.
2. Sugesti, ketertarikan kepada sesuatu secara total.
3. Identifikasi, penyamaan diri secara total.
4. Simpati, ketertarikan pada orang.

Interaksi sosial akan terjadi apabila memenuhi dua syarat, yaitu :
1. Kontak sosial, kontak sosial dapat menghasilkan interaksi sosial yang positif atau negatif. Kontak sosial dapat terjadi 3 bentuk :
a. Kontak antarindividu, contoh : anak dengan ibu rumah tangga, siswa dengan guru atau siswa dengan siswa di sekolah.
b. Kontak antar individu dengan kelompok atau sebaliknya, contoh : seorang remaja ingin ikut perkumpulan sepakbola, seorang guru mengajar di kelas.
c. Kontak antarkelompok, contoh : rapat orang tua siswa dengan guru-guru.

2. Komunikasi, adalah proses penyampaian pikiran dan perasaan seseorang kepada orang lain atau sekelompok orang. Alat yang digunakan dalam komunikasi, yaitu :
a. Melalui pembicaraan
b. Melalui mimik, seperti raut muka, pandangan dan sikap.
c. Dengan lambang, seperti bicara isyarat.
d. Dengan alat-alat

Bentuk interaksi sosial, yaitu sebagai berikut :
1. Kerjasama, belajar kelompok.
2. Akomodasi, ialah usaha untuk meredakan pertentangan, mencari kestabilan, serta kondisi berimbang di antara para anggota.
3. Asimilasi atau akulturasi, ialah usaha mengurangi perbedaan pendapat antaraanggota serta usaha meningkatkan persatuan pikiran, sikap, dan tindakan dengan memperhatikan tujuan-tujuan bersama. Faktor-faktor yang dapat mempermudah terjadinya akulturasi antara lain :
1. toleransi
2. menghargai kebudayaan orang lain
3. sikap terbuka
4. demokrasi dalam banyak hal
5. ada kepentingan yang sama.
4. Persaingan/kompetisi
5. Pertikaian, ialah proses sosial yang menunjukkan pertentangan atau konflik satu dengan yang lain.

Kelompok sosial berarti himpunan sejumlah orang, paling sedikit dua orang, yang hidup bersama, karena cita-cita yang sama. Kelompok sosial dalam dunia pendidikan bisa berbentuk kelompok personalia sekolah, kelompok guru, kelompok siswa, kelas, subkelas, kelompok belajar dirumah dan sebagainya. Persyaratan untuk terjadinya kelompok sosial, yaitu :
1. Setiap anggota memiliki kesadaran sebagai bagian dari kelompok.
2. Ada interaksi atau hubungan timbal balik antara anggota.
3. Mempunyai tujuan yang sama.
4. Membentuk norma yang mengatur ikatan kelompok.
5. Terjadi struktur dalam kelompok yang membentuk peranan dan status sebagai dasar kegiatan dalam kelompok.

Kelompok sosial dapat dibedakan :
1. Berdasarkan keakraban hubungan
1. Kelompok primer, akan terjadi manakala hubungan antaranggota cukup erat, kenal dan akrab satu dengan yang lain. Contoh : kelas dan kelompok belajar di rumah.
2. Kelompok sekunder, kelompok yang anggotanya cukup banyak sehingga sering mereka tidak kenal satu dengan yang lainnya. Contoh : dosen-dosen suatu perguruan tinggi yang besar, dan beberapa organisasi profesi.

Ada dua teori yang dipakai untuk meningkatkan produktivitas kelompok sosial, yaitu : (Wuraji, 1988 dan Sudarja, 1988).

1. Teori Struktur Fungsional
Teori ini memanfaatkan struktur dan fungsi untuk meningkatkan produktivitas kelompok. Struktur adalah bagian-bagian kelompok dengan peranan dan posisinya masing-masing serta memiliki fungsi-fungsi tersendiri. Teori ini dikembangkan oleh Pluralis.
2. Teori Konflik
Menggunakan prinsip-prinsip pemaksaan dalam melakukan perbaikan atau perubahan kelompok sosial. Teori ini kemudian dikembangkan menjadi teori radikal, artinya perubahan-perubahan dalam kelompok sosial dilakukan secara radikal.

Tiga prinsip yang melandasi kestabilan kelompok menurut Wuradji (1988), yaitu integritas, ketenangan, dan konsensus. Wuradji juga mengatakan (1) sekolah sebagai kontrol sosial, yaitu untuk memperbaiki kebiasaan-kebiasaan jelek pada anak-anak kala di rumah maupun di masyarakat dan (2) sekolah sebagai pengubah sosial, yaitu untuk menyeleksi nilai-nilai, menghasilkan warga negara yang baik, dan menciptakan ilmu serta teknologi baru.
Jadi, Sosiologi sebagai landasan bagi proses dan pelaksanaan pendidikan, karena memang karakteristik dasar manusia sebagai makhluk sosial akan berkembang dengan baik dan menghasilkan kebudayaan-kebudayaan yang bernilai serta peradaban tinggi melalui pendidikan.

B. KEBUDAYAAN DAN PENDIDIKAN
Kebudayaan adalah cara hidup yang telah dikembangkan oleh anggota-anggota masyarakat (Imran Manan, 1989). Lima komponen kebudayaan, yaitu :
1. Gagasan
2. Ideologi
3. Norma
4. Teknologi
5. Benda
6. Kesenian
7. Ilmu
8. Kepandaian

Kebudayaaan yang dapat dikelompokkan menjadi 3 yaitu :
1. Kebudayaan umum, misalnya kebudayaan Indonesia itu sendiri
2. Kebudayaan daerah, misalnya kebudayaan yang berada di daerah-daerah seperti kebudayaan Buton, Raha, Sunda, Jawa, dll.
3. Kebudayaan popular yaitu suatu kebudayaan yang masa berlakunya rata-rata lebih pendek dari kedua kebudayaan umum dan kebudayaan daerah.

Tiga hal yang menimbulkan perubahan kebudayaan, yaitu :
1. Originasi, yaitu sesuatu yang baru atau penemuan-penemuan baru.
2. Difusi, ialah pembentukan kebudayaan baru akibat masuknya elemen-elemen budaya yang baru ke dalam budaya yang lama.
3. Reinterpretasi, ialah perubahan kebudayaan akibat terjadinya modifikasi elemen-elemen kebudayaan yang telah ada agar sesuai dengan keadaan zaman.

Pendidikan adalah bagian dari kebudayaan. Bila kebudayaan berubah maka pendidikan juga bisa berubah dan bila pendidikan berubah akan dapat mengubah kebudayaan. Pendidikan adalah suatu proses membuat orang kemasukan budaya, membuat orang berprilaku mengikuti budaya yang memasuki dirinya. Sekolah sebagai salah satu dari tempat enkulturasi suatu budaya sesungguhnya merupakan bahan masukan bagi anak dalam mengembangkan dirinya. Antara pendidikan dan kebudayaan terdapat hubungan yang sangat erat dalam arti keduanya berkenaan dengan suatu hal yang sama yaitu nilai-nilai. Pendidikan membuat orang berbudaya, pendidikan dan budaya bersama dan memajukan. Makin banyak orang menerima pendidikan makin berbudaya orang itu dan makin tinggi kebudayaan makin tinggi pula pendidikan atau cara mendidiknya.

Kerber dan Smith (Imran Manan, 1989) fungsi kebudayaan dalam kehidupan manusia :
1. Penerus keturunan dan pengasuh anak
2. Pengembangan kehidupan berekonomi
3. Transmisi budaya
4. Meningkatkan iman dan takwa kepada Tuhan Yang Maha esa
5. Pengendalian sosial
6. Rekreasi

Kebudayaan nasional adalah suatu kebudayaan baru, yang akan membawa perjalanan bangsa ini menuju ke masyarakat modern yang dikehendaki. Kebudayaan nasional mempunyai enam ciri, sebagai berikut :
1. Afeksi yang memiliki atau mengandung :
a. Sikap jujur dalam semua bidang.
b. Tidak munafik.
c. Tulus dan ikhlas.
2. Sistem politik yang demokratis, yaitu :
a. Pemerintahan oleh rakyat untuk rakyat.
b. Rakyat selalu mendapat kesempatan untuk mempertanyakan perihal pemerintahannya.
3. Sistem ekonomi yang :
a. Memberi kesempatan adil kepada semua warga negara untuk mendapat penghidupan dan kehidupan yang layak sesuai dengan harkat kemanusiaan.
b. Mampu menciptakan pasar luas untuk bersaing.
c. Menyalurkan hasil penjualan untuk kesejahteraan yang relatif merata pada seluruh masyarakat.
4. Sistem pendidikan yang :
a. Sanggup menyediakan kesempatan yang seluas-luasnya kepada seluruh warga negara untuk mendapatkan pendidikan.
b. Mampu mendorong perimbangan ilmu dan teknologi yang setinggi-tingginya.
5. Sistem kesenian yang :
a. Mampu mengembangkan suasana kehidupan kesenian yang kaya dan penuh vitalitas.
b. Tanpa adanya beban penghalang terhadap pernyataan kesenian.
6. Sistem kepercayaan yang :
a. Sehat, toleransi, dan damai.
b. Memberi tempat seluas-luasnya kepada semua bentuk agama untuk berlangsung secara selamat dan tenteram.

C. MASYARAKAT DAN SEKOLAH
Lembaga pendidikan tidak dapat dipisahkan dengan masyarakat itu sendiri. Antara lembaga pendidikan dan masyarakat terjadi hubungan timbal balik. Pendidikan atau sekolah memberi manfaat kepada masyarakat begitu pula masyarakat memberikan dukungannya kepada sekolah. Manfaat pendidikan bagi masyarakat adalah :
1. Pendidikan sebagai transmisi budaya dan pelestarian budaya
2. Sekolah sebagai pusat budaya bagi masyarakat sekitarnya
3. Sekolah mengembangkan kepribadian anak di samping oleh keluarga anak itu sendiri
4. Pendidikan membuat orang menjadi warga Negara yang baik
5. Pendidikan meningkatkan integrasi sosial atau kemampuan bermasyarakat.
6. Pendidikan meningkatkan kemampuan menganalisis secara kritis, melalui pelajaran ilmu, teknologi, dan kesenian.
7. Sekolah meningkatkan alat kontrol sosial dengan memberi pendidikan agama dan budi pekerti.
8. Sekolah membantu memecahkan masalah-masalah sosial.
9. Pendidikan adalah sebagai perubah sosial melalui kebudayaan-kebudayaan baru.
10. Pendidikan berfungsi sebagai seleksi dan alokasi tenaga kerja.
11. Pendidikan dapat memodifikasi hierarki ekonomi masyarakat.

Dalam perkembangan landasan sosial budaya memiliki fungsi yang amat penting dalam dunia pendidikan, yaitu :
1. Mewujudkan masyarakat yang cerdas, yaitu masyarakat yang pancasilais yang memiliki cita-cita dan harapan dapat demokratis dan beradab, menjunjung tinggi hak-hak asasi manusia dan bertanggung jawab dan berakhlak mulia tertib dan sadar hukum, kooperatif dan kompetitif serta memiliki kesadaran dan solidaritas antar generasi dan antara bangsa.
2. Transmisi budaya sekolah berfungsi sebagai reproduksi budaya menempatkan sekolah sebagai pusat penelitian dan pengembangan. Fungsi semacam ini merupakan fungsi pada perguruan tinggi. Pada sekolah-sekolah yang lebih rendah, fungsi ini tidak setinggi pada tingkat pendidikan tinggi.
3. Pengendalian Sosial, pengendalian sosial berfungsi memberantas atau memperbaiki suatu perilaku menyimpang dan menyimpang terjadinya perilaku menyimpang. Pengendalian sosial juga berfungsi melindungi kesejahteraan masyarakat seperti lembaga pemasyarakatan dan lembaga pendidikan.
4. Meningkatkan Iman dan Taqwa kepada Tuhan YME. Pendidikan sebagai budaya haruslah dapat membuat anak-anak mengembangkan kata hati dan perasaannya taat terhadap ajaran-ajaran agama yang dipeluknya.
5. Analisis Kedudukan Pendidikan dalam Masyarakat. Hubungan antara lembaga pendidikan dengan masyarakat dapat dianalogikan sebagai selembar kain batik. Dalam hal ini motif-motif atau pola-pola gambarnya adalah lembaga pendidikan dan kain latarnya adalah masyarakat. Antara lembaga pendidikan dengan masyarakat terjadi hubungan timbal balik simbiosis mutualisme. Pendidikan atau sekolah memberi manfaat untuk meningkatkan peranan mereka sebagai warga masyarakat.

D. MASYARAKAT INDONESIA DAN PENDIDIKAN
Sebagian besar masyarakat Indonesia sekarang sudah sadar akan pentingnya pendidikan untuk meningkatkan hidup dan kehidupan.
Pengaruh globalisasi terhadap masyarakat Indonesia, yaitu :
1. Bidang ekonomi
a. Bantuan dana dari luar negeri.
b. Penanaman modal asing di indonesia.
c. Industri dan perdagangan indonesia menyebar ke luar negeri atau sebaliknya industri dan perdagangan asing masuk ke indonesia.
d. Ekonomi moneter tidak dapat diisolasi dari pengaruh dunia luar.
2. Bidang politik
Tokoh-tokoh internasional sering kali mempermasalahkan HAM dan demokrasi.
3. Bidang kebudayaan
a. Lagu-lagu barat sudah banyak masuk ke indonesia.
b. Tayangan lagu dan cerita barat terlalu banyak terutama di televisi swasta. Tampak seolah-olah tidak menghiraukan kesenian daerah atau indonesia.
c. Budaya konsumtif yang tidak puas belanja di dalam negeri.
4. Kehidupan remaja
a. Minum minuman keras.
b. Ikut-ikutan memakai narkoba.
c. Bermain-main di klub malam.
d. Melakukan tindakan kekerasan.

Faktor yang menyebabkan mulai menyusutnya rasa tolong menolong dalam masyarakat Indonesia, yaitu :
1. Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang sudah tinggi, membuat ekonomi masyarakat pada umumnya semakin meningkat.
2. Akibat kemampuan daya beli meningkat, maka kewajaran manusia yang mencintai harta benda semakin terpenuhi.
3. Gerakan emansipasi mempercepat proses memperkerjakan orang perempuan. Akibatnya banyak suami istri dalam keluarga bekerja keduanya.
4. Ketiga butir diatas tidak terlepas dari pengaruh globalisasi dunia.
Di samping memperkuat jati diri, ada hal-hal tertentu yang bisa dilakukan untuk mengurangi atau menghilangkan pengaruh globalisasi terhadap kebudayaan dan kehidupan remaja, antara lain :
1. Membuat pembatasan kepada media elektronik terutama televisi yang sangat berpengaruh kepada kehidupan anak-anak dan remaja.
2. Mendukung tindakan pemerintah terhadap upaya memerangi perilaku negatif para remaja.
Untuk membuat kebudayaan, termasuk pendidikan di masyarakat, sebagai sesuatu yang tidak selalu disadari oelh pendidik, menjadi wadah proses belajar sehingga anak dapat berkembang wajar sejak awal, membutuhkan sejumlah pembenahan.
1. Kerjasama orang tua, masyarakat, dan pemerintah dalam memperbaiki pendidikan ditingkatkan.
2. Pendidikan nonformal dan pendidikan informal, ditangani secara serius, paling sedikit sama intensitasnya dengan penanganan pendidikan jalur formal.
3. Kebudayaan, terutama tayangan televisi, yang paling banyak pengaruhnya terhadap perkembangan anak dan remaja, perlu ditangani dengan baik seperti telah diutarakan di atas.
4. Kebudayaan-kebudayaan negatif yang lain perlu dihilangkan dengan berbagai cara.

Selanjutnya untuk membuat anak menjadi mandiri dan berkompetensi, yang sebetulnya juga merupakan cita-cita pendidikan yang telah digariskan, merupakan persoalan metodologi belajar dan mengajar. Bila dalam belajar mereka sering atau selalu dihadapkan pada masalah yang nyata terjadi di masyarakat dan diberi kesempatan untuk memecahkannya, tentu tujuan itu lama-lama akan tercapai. Untuk itu, dalam masa transisi ini kalau pendidikan akan direorganisasi, perlu :
1. Memasukkan materi pelajaran yang diambil dari keadaan nyata di masyarakat atau keluarga.
2. Metode belajar yang mengaktifkan siswa baik individual maupun kelompok.
3. Beberapa kali mengadakan survei di masyarakat tentang berbagai kebudayaan.
4. Ikut memecahkan masalah masyarakat dan keluarga.
5. Memberi kesempatan berinovasi atau kreatif menciptakan sesuatu yang baru yang lebih baik tentang hidup dan kehidupan.

E. IMPLIKASI KONSEP PENDIDIKAN
Konsep pendidikan mengangkat derajat manusia sebagai makhluk budaya yaitu makhluk yang diberkati kemampuan untuk menciptakan nilai kebudayaan dan fungsi budaya dan pendidikan adalah kegiatan melontarkan nilai-nilai kebudayaan dari generasi ke generasi.
Kebudayaan masyarakat jika dikaitkan dengan pendidikan maka ditemukan sejumlah konsep pendidikan.
1. Keberadaan sekolah tidak dapat dipisahkan dengan masyarakat sekitarnya.
2. Perlu dibentuk badan kerjasama antara sekolah dengan tokoh-tokoh masyarakat termasuk wakil orang tua siswa untuk ikut memajukan pendidikan.
3. Proses sosialisasi anak-anak perlu ditingkatkan.
4. Dinamika kelompok dimanfaatkan untuk belajar.
5. Kebudayaan menyangkut seluruh cara hidup dan kehidupan manusia yang diciptakan oleh manusia ikut mempengaruhi pendidikan atau perkembangan anak. Sebaliknya pendidikan juga dapat mengubah kebudayaan.
6. Akibat kebudayaan masa kini, ada kemungkinan pergeseran paradigma pendidikan.
7. Penertiban kebudayaan, dengan cara menyaring tayangan televisi dan memberantas kebudayaan yang merusak remaja.
8. Akreditasi ditingkatkan untuk meningkatkan mutu lembaga pendidikan.
9. Materi pelajaran banyak dikaitkan dengan keadaan dan maslah masyarakat setempat.
10. Metode belajar ditekankan pada kegiatan anak baik individual maupun kelompok, melakukan survey di masyarakat, ikut memecahkan maslah masyarakat, dan diberi kesempatan berkreasi atau menemukan ide-ide baru.
11. Ujian negara lambat laun diubah menjadi ujian sekolah, sehingga memungkinkan memberi ujian bersifat komprehensif untuk mendukung perkembangan manusia seutuhnya.
Referensi :

Pidarta, Made. 2007. Landasan Kependidikan: Stimulus Pendidikan bercorak Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta.
http://defauzan.wordpress.com/2009/04/18/makalah-landasan-sosial-budaya-pendidikan/
http://www.muniryusuf.com/beberapa-landasan-pendidikan-3.html

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Oktober 15, 2012 in Landasan Pendidikan

 

Tag: , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: