RSS

LANDASAN PSIKOLOGIS PENDIDIKAN

15 Okt

Psikologi atau ilmu jiwa adalah ilmu yang mempelajari jiwa manusia. Jiwa itu sendiri adalah roh dalam keadaan mengendalikan jasmani yang dapat dipengaruhi oleh alam sekitar. Karena itu jiwa atau psikis dapat dikatakan inti dan kendali kehidupan manusia, yang berada dan melekat dalam manusia itu sendiri. Jiwa manusia berkembang sejajar dengan pertumbuhan jasmani.
A. PSIKOLOGI PERKEMBANGAN
Ada tiga teori atau pendekatan tentang perkembangan, pendekatan-pendekatan yang dimaksud adalah : (Nana Syaodih, 1988)
1. Pendekatan Pentahapan. Perkembangan individu berjalan melalui tahapan-tahapan tertentu. Pada setiap tahap memiliki ciri-ciri khusus yang berbeda dengan ciri-ciri pada tahap-tahap yang lain.
2. Pendekatan Diferensial. Pendekatan ini memandang individu-individu itu memiliki kesamaan-kesamaan dan perbedaan-perbedaan. Atas dasar ini lalu orang membuat kelompok-kelompok. Anak-anak yang memiliki kesamaan dijadikan satu kelompok. Maka terjadilah kelompok berdasarkan jenis kelamin, kemampuan intelek, bakat, ras, agama, status sosial ekonomi, dan sebagainya.
3. Pendekatan Ipsatif. Pendekatan ini berusaha melihat karakteristik setiap individu, dapat saja disebut sebagai pendekatan individual (melihat perkembangan seseorang secara individual).

Dari ketiga pendekatan ini, yang paling banyak dilaksanakan adalah pendekatan pentahapan. Pendekatan pentahapan ada dua macam yaitu yang bersifat menyeluruh dan yang bersifat khusus. Yang menyeluruh akan mencakup segala aspek perkembangan sebagai factor yang diperhitungkan dalam menyusun tahap-tahap perkembangan. Sedangkan yang bersifat khusus hanya mempertimbangkan faktor tertentu saja sebagai dasar menyusun tahap-tahap perkembangan anak, misalnya pentahapan Piaget, Koglberg, dan Erikson.

Menurut Crijns periode atau tahap perkembangan manusia secara umum adalah :
1. Umur 0 – 2 tahun disebut masa bayi.
2. Umur 2 – 4 tahun disebut masa kanak-kanak.
3. Umur 5 – 8 tahun disebut masa dongeng.
4. Umur 9 – 13 tahun disebut masa Robinson Cruose. Pada masa ini mulai berkembang pemikiran kritis, nafsu persaingan, minat-minat dan bakat
5. Umur 13 tahun disebut masa pubertas pendahuluan.
6. Umur 14 – 18 tahun disebut masa puber.
7. Umur 19 – 21 tahun disebut masa adolesen. Anak-anak pada masa ini mulai menemui keseimbangan, mereka sudah punya rencana hidup tertentu dengan nilai-nilai yang sudah dipastikannya.
8. Umur 21 tahun ke atas disebut masa dewasa.
Psikologi perkembangan menurut Rouseau dibagi atas empat tahap, yaitu :
1. Masa bayi dari 0 – 2 tahun yang sebagian besar merupakan perkembangan fisik.
2. Masa anak dari 2 – 12 tahun yang dinyatakan perkembangannya baru seperti hidup manusia primitif.
3. Masa pubertas dari 12 – 15 tahun, ditandai dengan perkembangan pikiran dan kemauan untuk berpetualang.
4. Masa adolesen dari 15 – 25 tahun, pertumbuhan seksual menonjol, social, kata hati, dan moral. Remaja ini sudah mulai belajar berbudaya.
Stanley Hall penganut teori Evolusi dan teori Rekapitulasi membagi masa perkembangan anak sebagai berikut :
1. Masa kanak-kanak ialah umur 0 – 4 tahun sebagai masa kehidupan binatang.
2. Masa anak ialah umur 4 – 8 tahun merupakan masa sebagai manusia pemburu.
3. Masa muda ialah 8 – 12 tahun sebagai manusia belum berbudaya.
4. Masa adolesen ialah umur 12 – dewasa merupakan manusia berbudaya.
Havinghurst menyusun fase-fase perkembangan sebagai berikut : (Mulyani, 1988)
1. Tugas perkembangan masa kanak-kanak
2. Tugas perkembangan masa anak
3. Tugas perkembangan masa remaja
4. Tugas perkembangan masa dewasa awal
5. Tugas perkembangan masa setengah baya
6. Tugas perkembangan orang tua
Tugas-tugas yang diberikan pada fase-fase perkembangan memberi kemudahan bagi para pendidik pada setiap jenjang dan tingkat pendidikan untuk :
1. Menentukan arah pendidikan.
2. Menentukan metode atau model belajar anak-anak agar mereka mampu menyelesaikan tugas perkembangannya.
3. Menyiapkan materi pelajaran yang tepat.
4. Menyiapkan pengalaman belajar yang cocok dengan tugas perkembangan itu.

Menurut Piaget ada empat tingkat perkembangan kognisi, (Mulyani 1988, Nana Syaodih 1988, dan Callahan 1983) :
1. Periode sensorimotor pada umur 0 – 2 tahun, kemampuan anak terbatas pada gerak-gerak refleks.
2. Periode praoperasional pada umur 2 – 7 tahun, perkembangan bahasa sangat pesat, peranan intuisi dalam memutuskan sesuatu masih besar.
3. Periode operasi konkret pada umur 7 – 11 tahun, anak sudah bisa berpikir logis, sistematis, dan memecahkan masalah yang bersifat konkret.
4. Periode operasi formal pada umur 11 – 15 tahun, anak-anak sudah dapat berpikir logis terhadap masalah baik yang konkret maupun yang abstrak. Dapat membentuk ide-ide dan masa depannya secara realistis.

Perkembangan kognisi menurut Bruner sebagai berikut (Toeti Soekamto, 1994) :
1. Tahap enaktif, anak melakukan aktivitas-aktivitas dalam upaya memahami lingkungan.
2. Tahap ikonik, anak memahami dunia melalui gambaran-gambaran dan visualisasi verbal.
3. Tahap simbolik, anak telah memiliki gagasan abstrak yang banyak dipengaruhi oleh bahasa dan logika.

Perkembangan kognisi menurut Lawrence Kohlberg (McNeil,1977 dan Nana Syaodih, 1988):
1 Tingkat Prekonvensional
a. Tahap orientasi kepatuhan dan hukuman, seperti kebaikan, keburukan, ditentukan oleh orang itu dihukum atau tidak.
b. Tahap orientasi egois yang naïf, seperti tindakan yang betul ialah yang memuaskan kebutuhan seseorang.
2. Tingkat Konvensional
a. Tahap orientasi anak baik, seperti perilaku yang baik adalah bila disenangi orang lain.
b. Tahap orientasi mempertahankan peraturan dan norma sosial, seperti perilaku yang baik ialah yang sesuai dengan harapan keluarga, kelompok atau bangsa.
3. Tingkat Post-Konvensional
a. Tahap orientasi kontrak sosial yang legal, yaitu tindakan yang mengikuti standar masyarakat dan mengkonstruksi aturan baru.
b. Tahap orientasi prinsip etika universal, yaitu tindakan yang melatih kesadaran mengikuti keadilan dan kebenaran universal.

Perkembangan Afeksi menurut Erikson ada delapan tahap (Mulyani, 1988) :
1. Bersahabat vs menolak pada umur 0 -1 tahun
2. Otonomi vs malu dan ragu-ragu pada umur 1 -3 tahun
3. Inisiatif vs perasaan bersalah pada umur 3 -5 tahun
4. Perasaan Produktif vs rendah diri pada umur 6 -11 tahun
5. Identitas vs kebingungan pada umur 12 – 18 tahun
6. Intim vs mengisolasi diri pada umur 19 – 25 tahun
7. Generasi vs kesenangan pribadi pada umur 25 – 45 tahun
8. Integritas vs putus asa pada umur 45 tahun ke atas

Perkembangan afeksi menurut pendapat Baller dan Charles (Mulyani, 1988) adalah :
1. Anak yang berasal dari keluarga yang memberi layanan baik, akan bersikap ramah, luwes, bersahabat, dan mudah bergaul.
2. Anak yang dilahirkan pada keluarga yang menolak kelahiran itu, akan cenderung menimbulkan masalah, agresif, menentang orang tua, dan sulit diajak berbicara.
3. Anak yang diasuh oleh keluarga yang acuh tak acuh pada anak, cenderung bersikap pasif dan kurang populer di luar rumah.
Perkembangan Menurut Gagne (McNeil, 1977) adalah sebagai berikut :
1. Multideskriminasi, yaitu belajar membedakan stimuli yang mirip, misalnya huruf b dengan d.
2. Belajar konsep, yaitu belajar membuat respons sederhana, seperti huruf hidup, huruf mati, dan sebagainya.
3. Belajar prinsip, yaitu mempelajari prinsip-prinsip atau aturan-aturan konsep.
4. Pemecahan masalah, yaitu belajar mengkombinasikan dua atau lebih prinsip untuk memperoleh sesuatu yang baru.

B. PSIKOLOGI BELAJAR
Belajar adalah perubahan perilaku yang relatif permanen sebagai hasil pengalaman (bukan hasil perkembangan, pengaruh obat,atau kecelakaan) dan bisa melaksanakannya pada pengetahuan lain serta mampu mengomunikasikannya kepada orang lain.
Secara psikologis, belajar dapat didefinisikan sebagai “suatu usaha yang dilakukan oleh seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku secara sadar dari hasil interaksinya dengan lingkungan” (Slameto, 1991:2). Definisi ini menyiratkan dua makna. Pertama, bahwa belajar merupakan suatu usaha untuk mencapai tujuan tertentu yaitu untuk mendapatkan perubahan tingkah laku. Kedua, perubahan tingkah laku yang terjadi harus secara sadar.
Kegiatan dan usaha untuk mencapai perubahan tingkah laku itu dipandang sebagai Proses belajar. Sedangkan perubahan tingkah laku itu sendiri dipandang sebagai Hasil belajar. Hal ini berarti, belajar pada hakikatnya menyangkut dua hal yaitu proses belajar dan hasil belajar.
Para ahli psikologi cenderung untuk menggunakan pola-pola tingkah laku manusia sebagai suatu model yang menjadi prinsip-prinsip belajar. Prinsip-prinsip belajar ini selanjutnya lazim disebut dengan Teori Belajar.
Ada sejumlah prinsip belajar menurut Gagne (1979) sebagai berikut :
1. Kontiguitas, memberikan situasi atau materi yang mirip dengan harapan pendidik tentang respons anak yang diharapkan, beberapa kali secara berturut-turut.
2. Pengulangan, situasi dan respons anak diulang-ulang atau dipraktikkan agar belajar lebih sempurna dan lebih lama diingat.
3. Penguatan, respons yang benar misalnya diberi hadiah untuk mempertahankan dan menguatkan respons itu.
4. Motivasi positif dan percaya diri dalam belajar.
5. Tersedia materi pelajaran yang lengkap untuk memancing aktivitas anak-anak.
6. Ada upaya untuk membangkitkan keterampilan intelektual untuk belajar, seperti apersepsi dalam mengajar.
7. Ada strategiyang tepat untuk mengaktifkan anak-anak dalam belajar.
8. Aspek-aspek jiwa anak harus dapat dipengaruhi oleh faktor-faktor dalam pengajaran.

Ada sejumlah teori belajar yang dibuat secara sistematik (Callahan, 1983, Nana Syaodih, 1988, dan Toeti Soekamto, 1994) :
1. Teori belajar klasik
a. Disiplin Mental Theistik, bersumber dari Psikologi Daya atau Psikologi Fakulti. Menurut teori ini, belajar adalah melatih daya-daya.
b. Disiplin Mental Humanistik, bersumber dari aliran Psikologi Humanistik Klasik ciptaan Plato dan Aristoteles. Teori ini sama dengan Disiplin Mental Theistik, bedanya adalah pada proses latihan.
c. Naturalis atau Aktualisasi Diri, berpangkal dari Psikologi Naturalis Romantik yang dipimpin oleh Rousseau. Teori ini memandang setiap anak memiliki sejumlah potensi atau kemampuan. Potensi ini harus dikembangkan tetapi bukan oleh pendidik dengan cara melatih, melainkan oleh anak itu sendiri.
d. Apersepsi, berasal dari Psikologi Struktur Ciptaan Herbart. Psikologi ini memandang bahwa jiwa manusia merupakan suatu struktur. Langkah-langkah belajar menurut Herbart :
1. Pendidikan harus mengadakan persiapan dengan cermat.
2. Pendidikan dilaksanakan sedemikian rupa sehingga anak-anak merasa jelas memahami pelajaran itu, yang memudahkan asosiasi-asosiasi baru terbentuk.
3. Asosiasi-asosiasi baru terbentuk antara materi yang dipelajari dengan struktur jiwa atau apersepsi anak yang telah ada.
4. Mengadakan generalisas, pada saat ini terbentuklah suatu struktur baru dalam jiwa anak.
5. Mengaplikasikan pengetahuan yang baru didapat agar struktur terbentuk semakin kuat.
2. Teori belajar modern
a. R-S Bond atau Asosiasi, dicetuskan pertama kali oleh kelompok Behavioris, dengan tokohnya Thorndike. Menurut teori ini, belajar akan terjadi kalau ada kontak hubungan antara orang bersangkutan dengan benda-benda yang ada di luar. R-S Bond, yaitu R adalah respons orang bersangkutan, dan S adalah stimulus dari luar diri seseorang, sedangkan Bond adalah hubungan atau asosiasi. Thorndike mencetuskan tiga hokum belajar sebagai berikut :
1. Hukum Kesiapan, artinya semakin siap anak itu semakin mudah terbentuk hubungan antara stimulus dengan respons.
2. Hukum Latihan atau Pengulangan. Dikatakan bahwa hubungan antara stimulus dengan respons akan terbentuk bila hubungan itu sering diulang atau dilatih berkali-kali.
3. Hukum Dampak, maksudnya ialah hubungan antara stimulus dan respons akan terjadi bila hubungan itu memberikan dampak yang menyenangkan.
b. Pengkondisian Instrumental, tokoh dari teori ini yaitu Watson dan Thorndike. Belajar menurut mereka adalah masalah melekatkan atau menguatkan respons yang benar dan menyisihkan respons yang salah akibat pemberian hadiah dan tidak dihiraukannya konsekuensi respons yang salah.
c. Pengkondisian Operan, diperkenalkan oleh Skiner. Kalau teori Pengkondisian Instrumental memberi kondisi sebelum respons, maka teori Pengkondisian Operan memberikan kondisi sesudah terjadinya respons.
d. Penguatan/Reinforcement, lahir dari Psikologi Reinforcement yang dipimpin oleh Hull. Teori ini memberi penguatan pada respons-respons yang benar atau yang sesuai dengan harapan. Ada dua macam penguatan, yaitu :
1. Penguatan positif, ialah setiap stimulus yang dapat memantapkan respons pada pengondisian instrumental dan setiap hadiah yang dapat memantapkan respons pada penkondisian operan.
2. Penguatan negatif, ialah setiap stimulus yang perlu dihilangkan untuk memantapkan respons yang terjadi.
Ada perbedaan pengertian antara penguatan positif dan negatif dengan hukuman. Penguatan adalah pemberian stimulus positif atau penghilangan stimulus negatif. Sementara itu hukuman adalah pemberian stimulus negatif atau penghilangan stimulus positif.
e. Kognisi, ciptaan Bruner (Connell, 1974). Teori ini menekankan pada cara individu mengorganisasikan apa yang telah ia alami dan pelajari.
f. Belajar Bermakna, diciptakan oleh Ausubel. Teori menekankan cara seseorang mengorganisasi pengetahuan yang didapatnya.
g. Insight atau Gestalt, teori Gestalt memandang anak-anak telah memiliki sikap dan keterampilan yang kompleks dari hasil belajarnya.
h. Lapangan, dipelopori oleh Lewin (Callahan, 1983). Teori ini mencoba menjelaskan perilaku manusia melalui cara mereka merespons terhadap faktor-faktor lingkungan, terutama lingkungan social.
i. Tanda (sign), dipelopori oleh Tolman yang mengatakan bahwa perilaku itu mengarah pada tujuan. Belajar adalah suatu harapan bahwa stimulus akan diikuti oleh situasi yang jelas.
j. Fenomenologi, diciptakan oleh Snygg dan Combs yang memandang individu itu berada dalam keadaan dinamis yang stabil dan memiliki persepsi bersifat fenomenologi.

Teori belajar mandiri dapat dibagi dua kelompok, yaitu :
1. Behavioris yang mencakup nomor a sampai dengan d.
2. Kognisi yang mencakup nomor e sampai dengan j.

Teori belajar konstruktifis adalah teori belajar yang membiasakan peserta didik bertindak seperti ilmuwan. Mereka mencari sendiri ilmu dengan cara menganalisis fakta-fakta yang ada, kemudian mensintesis, lalu mengambil kesimpulan.

Teori Belajar Bermakna dari David P.Ausubel, mengidentifikasi empat kemungkinan tipe belajar yaitu sebagai berikut:
1. Belajar dengan penemuan yang bermakna
2. Belajar dengan penemuan tidak bermakna
3. Belajar menerima (ekspositori) yang bermakna
4. Belajar menerima (ekspositori) yang tidak bermakna

C. PSIKOLOGI SOSIAL
Psikologi Sosial adalah psikologi yang mempelajari psikologi seseorang di masyarakat, yang mengkombinasikan ciri-ciri psikologi dengan ilmu sosial untuk mempelajari pengaruh masyarakat terhadap individu dan antar individu (Hollander, 1981). Psikologis sosial membahas tentang keterkaitan masyarakat dngan kondisi psikologis kehidupan individu.

Berkembangnya kasih sayang pada sesama individu disebabkan oleh dua hal yaitu (Freedman, 1981) :
1. Karena pembawaan atau genetika
2. Karena Belajar

Pembentukan kesan pertama terhadap orang lain memilki tiga kunci utama yaitu:
1. Kepribadian orang itu
2. Perilaku orang itu
3. Latar belakang situasi

Menurut Klinger (Savage, 1991) factor-faktor yang menentukan motivasi belajar adalah:
1. Minat dan kebutuhan individu
2. Persepsi kesulitan akan tugas-tugas
3. Harapan sukses

Keintiman hubungan yang disebut penetrasi sosial akan terjadi manakala perilaku antarpribadi diikuti oleh perasaan subjektif. Perilaku yang bertentangan dengan hubungan intim adalah perilaku agresif. Yang dimaksud agresif adalah perilaku yang menyakiti orang lain atau yang dapat menyakiti orang lain. Ada tiga kategori agresif, yaitu :
1. Agresif anti social, misal memaki-maki.
2. Agresif pro social, missal menembak teroris
3. Agresif sanksi, missal menampar orang yang melecehkannya.

Ada tiga faktor utama yang menyebabkan perilaku agresif, yaitu :
1. Watak berkelahi
2. Gangguan atau serangan dari pihak lain
3. Putus asa/ tidak dapat mencapai suatu tujuan

D. KESIAPAN BELAJAR DAN ASPEK-ASPEK INDIVIDU
Kesiapan belajar secara umum adalah kemampuan seseorang untuk mendapatkan keuntungan dari pengalaman yang ia temukan. Pelengkap peserta didik atau warga belajar sebagai subjek garis besarnya dapat dibagi menjadi lima kelompok yaitu:
1. Watak, ialah sifat yang dibawa sejak lahir
2. Kemampuan umum(IQ), ialah kecerdasan yang bersifat umum
3. Kemampuan khusus atau bakat, ialah kemampuan tertentu yang dibawa sejaklahir
4. Kepribadian, ialah penampilan seseorang secara umum
5. Latar belakang, ialah lingkungan tempat dibesarkan terutamam lingkungan keluarga

Aspek-aspek individu yang akan dikembangkan adalah :
1. Rohani
a. Umum: Agama, perasaan, kemauan, pikiran
b. Sosial : Kemasyarakatan, cinta tanah air
2. Jasmani
a. Keterampilan
b. Kesehatan
c. Keindahan tubuh

Menurut konsep pendidikan di Indonesia, individu harus berkembang secara total membentuk manusia seutuhnya dan diwarnai oleh sila-sila pancasila dan memenuhi ketiga kriteria yaitu :
1. Semua potensi berkembang secara proporsional, berimbang dan harmonis, artinya pelayanan terhadap potensi-potensi itu tidak pilih kasih dan disesuaikan dengan tingkat potensinya masing-masing.
2. Berkembang secara optimal, artinya potensi-potensi yang dikembangkan diusahakan setinggi mungkin sesuai dengan kemampuan daya dukung pendidikan.
3. Berkembang secara integratif, ialah perkembangan semua potensi atau aspek itu saling berkaitan satu dengan yang lain dan saling menunjang menuju suatu kesatuan yang bulat.

E. IMPLIKASI KONSEP PENDIDIKAN
1. Psikologi perkembangan yang bersifat umum, yang berorientasi pada afeksi, dan pada kognisi, semuanya memberi petunjuk pada pendidik bagaimana seharusnya ia menyiapkan dan mengorganisasi materi pendidikan serta bagaimana membina anak-anak agar mereka mau belajar dengan sukarela.
2. Psikologi belajar
a. Yang klasik
1. Disiplin mental bermanfaat untuk menghafal perkalian dan melatih soal-soal.
2. Naturalis/aktualisasi diri bermanfaat untuk pendidikan seumur hidup.

b. Behavioris bermanfaat atau cocok untuk membentuk perilaku nyata.
c. Kognisi cocok untuk mempelajari materi-materi pelajaran yang lebih rumit yang membutuhkan pemahaman, untuk memecahkan masalah dan untuk berkreasi menciptakan sesuatu bentuk atau ide baru.
3. Psikologi social
a. Persepsi diri atau konsep tentang diri sendiri ternyata bersumber dari perilaku yang overt dan persepsi kita terhadap lingkungan dan banyak dipengaruhi oleh sikap serta perasaan kita.
b. Pembentukan sikap bisa secara alami, dikondisi, dan meniru sikap para tokoh.
c. Sama halnya dengan sikap, motivasi anak-anak juga perlu dikembangkan pada saat yang memungkinkan melalui :
1. Pemenuhan minat dan kebutuhannya.
2. Tugas-tugas yang menantang.
3. Menanamkan harapan yang sukses dengan cara sering memberikan pengalaman sukses.
d. Hubungan yang intim diperlukan dalam proses konseling, pembimbingan, dan belajar dalam kelompok.
e. Pendidik perlu membendung perilaku agresif anti social, tetapi mengembangkan agresif prososial dan sanksi.
f. Pendidik juga perlu mengembangkan kemampuan memimpin dikalangan anak-anak.
4. Kesiapan belajar yang bersifat afektif dan kognitif perlu diperhatikan oleh pendidik agar materi yang dipelajari anak-anak dapat dipahami dan diiternalisasi dengan baik.
5. Kesembilan aspek individu harus diberi perhatian yang sama oleh pendidik dan dilayani secara berimbang.
6. Wujud perkembangan total atau berkembang seutuhnya memenuhi tiga kriteria, yaitu :
1. Semua potensi berkembang secara proporsional atau berimbang dan harmonis.
2. Potensi-potensi itu berkembang secara optimal.
3. Potensi-potensi berkembang secara integratif.

Sumber :

Pidarta, Made. 2007. Landasan Kependidikan: Stimulus Pendidikan bercorak Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta.
http://blog.unsri.ac.id/fitrianarahmawati/artikel-pendidikan/landasan-psikologi-pendidikan/pdf/15246/

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Oktober 15, 2012 in Landasan Pendidikan

 

Tag: , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: