RSS

LANDASAN EKONOMI PENDIDIKAN

15 Okt

I. PENDAHULUAN
Demokratisasi pendidikan merupakan salah satu isu yang sampai kini masih menjadi persoalan baik pada tataran konseptual maupun implementasinya. Demokratisasi pendidikan yang tengah bergulir di Indonesia tidak dapat dilepaskan dari persoalan pendidikan yang sedang kita hadapi. Program wajib belajar sembilan tahun yang dilaksanakan belum menunjukkan capaian yang memuaskan, ini menunjukan rendahnya tingkat pendidikan, dan tentunya hal ini akan berimplikasi pada penyediaan sumber daya manusia yang berkualitas. Krisis multidimensi yang dialami, upaya pemulihan ekonomi yang nampaknya masih berjalan lamban, dan biaya pendidikan yang semakin meningkat akan lebih memperlemah kemampuan orang tua dan masyarakat dalam menyekolahkan anak-anaknya. Tingginya angka tidak melanjutkan sekolah, dapat menjadi indikator lemahnya kemampuan ekonomi orang tua dalam melanjutkan pendidikan anak-anaknya.
Masalah lemahnya dukungan finansialpun turut ambil bagian dalam persoalan pendidikan. Sekalipun secara konstitusional telah ditetapkan besaran 20% dana APBN dan APBD untuk pendidikan, tetapi hal ini masih sangat sulit untuk dapat diwujudkan baik pemerintah pusat maupun pemerintah daerah. Hal ini disebabkan setiap daerah otonom memiliki kemampuan keuangan daerah yang tidak sama.
Masalah lain yang juga penting adalah terjadinya krisis ekonomi diberbagai negara. Dalam memasuki globalisasi ekonomi ini bangsa Indonesia harus menghadapi dua kenyataan yang nampak paradoksal yaitu tantangan kerjasama disatu pihak dan persaingan global dipihak lain.

II. PEMBAHASAN
A. PERAN EKONOMI DALAM PENDIDIKAN
Globalisasi ekonomi yang melanda dunia, otomatis mempengaruhi hampir semua negara di dunia, termasuk Indonesia. Alasannya sederhana, yaitu karena takut digulung dan dihempaskan oleh gelombang globalisasi ekonomi dunia. Pemerintah Indonesia memutuskan tetap mengutamakan pembangunan ekonomi. Kalau dahulu alasannya ekonomi memegang peranan penting dalam kehidupan manusia, maka kini disamping alasan itu juga agar tidak kalah bersaing dalam era globalisasi ekonomi. Berbagai kebijaksanaan dan peraturan baru dibuat. Frekuensi munculnya kebijaksanaan dengan peraturannya cukup banyak. Dan jelas berbeda sekali dengan frekuensi munculnya kebijakan dan peraturan-peraturan baru di bidang lain.

Implikasi keberhasilan pembangunan ekonomi secara makro dalam bidang pendidikan, yaitu:
a. Cukup banyak orang kaya sudah mau secara sukarela menjadi bapak angkat agar anak-anak dari orang tidak mampu bisa bersekolah.
b. Terlaksananya sistem ganda pendidikan. Sistem ganda pendidikan yaitu kerjasama antara sekolah dengan pihak usahawan dalam proses belajar mengajar.
c. Munculnya sejumlah sekolah unggulan. Sekolah ini didirikan oleh orang-orang kaya atau kumpulan dari mereka.

Inti tujuan pendidikan adalah membentuk mental yang positif atau cinta terhadap prestasi, cara kerja dan hasil kerja yang sempurna. Tidak menolak pekerjaan kasar, menyadari akan kehidupan yang kurang beruntung dan mampu hidup dalam keadaan apapun.

Peran ekonomi secara mikro dalam pendidikan yaitu :
1. Ekonomi memegang peranan penting dalam kehidupan seseorang walaupun orang itu sudah menyadari bahwa kehidupan yang gemerlapan tidak menjamin memberi kebahagiaan.
2. Tingkat kehidupan sekolah atau perguruan tinggi sangat di tentukan oleh kondisi ekonominya masing-masing. Sekolah atau perguruan tinggi yang kaya akan bisa leluasa bergerak menggaji guru atau dosen, membeli perlengkapan besar dan sebagainya. Namun sebaiknya untuk sekolah yang miskin akan sulit bergerak.
3. Persekolahan di Indonesia sebagian besar masih lemah ekonominya, walaupun sudah punya gedung, tapi perlengkapan belajarnya masih minim, kesejahteraan guru belum memadai, sementara itu orang-orang kaya lebih memilih mendirikan sekolah sendiri (sekolah unggulan) dari pada memberikan uang kepada semua sekolah yang ada dalam jangka waktu yang tidak terbatas.

B. FUNGSI PRODUKSI DALAM PENDIDIKAN
Fungsi produksi adalah hubungan antara output dengan input. Jadi, suatu organisasi pendidikan dikatakan produktif kalau paling sedikit memiliki keseimbangan antara output dengan input. Fungsi produksi dalam pendidikan bersumber dari buku Thomas (tt.), yang membagi fungsi produksi menjadi tiga macam, yaitu (1) fungsi produksi administrator, (2) fungsi produksi psikologi, dan (3) fungsi produksi ekonomi.

1. Fungsi Produksi Administator; yang dipandang input adalah segala sesuatu yang menjadi wahana dan proses pendidikan, input pendidikan meliputi:
a) Prasarana dan sarana belajar, termasuk ruangan kelas. Penilaian untuk dapat diuangkan adalah atas dasar luas dan kualitas bangunan.
b) Perlengkapan belajar di sekolah seperti media, alat peraga baik didalam kelas maupun di laboratorium, yang juga dihitung harganya dalam bentuk uang.
c) Buku-buku pelajaran dan bentuk material lainnya seperti film, disket dan sebagainya, juga dapat diuangkan.
d) Barang-barang habis dipakai seperti zat-zat kimia dilaboratorium, kapur, kertas, alat tulis, dan sebagainya dihitung dalam wujud uang.
e) Waktu guru bekerja dan perangkat pegawai administrasi dalam memproses peserta didik, yang juga dinilai dengan uang.
Kelima jenis input di atas sesudah dinilai dalam bentuk uang kemudian dijumlahkan. Sementara itu yang dipandang sebagai output adalah berbagai bentuk layanan dalam memproses peserta didik seperti menghitung SKS dan lamanya peserta didik dalam belajar.

2. Fungsi Produksi Dalam Psikologi; adalah sama dengan input fungsi produksi administrator akan tetapi outputnya berbeda. Hasil output yang ada pada fungsi ini adalah hasil belajar siswa yang mencakup : peningkatan kepribadian, pengarahan dan pembentukan sikap, penguatan kemauan, penambahan pengetahuan, ilmu dan teknologi, penajaman pikiran, dan peningkatan estetika (keindahan) serta keterampilan.
Suatu lembaga pendidikan dipandang berhasil dari segi fungsi produksi psikologi, kalau harga inputnya sama atau lebih kecil daripada harga outputnya. Indikator harga hanya dapat dicari dalam bentuk manfaatnya lulusan dimasyarakat serta kecocokannya dengan norma dan kondisi masyarakat.

3. Fungsi Produksi Ekonomi; sebagai inputnya adalah semua biaya pendidikan seperti pada input fungsi produksi admnistrator, semua uang yang dikeluarkan untuk keperluan pendidikan yaitu uang saku, membeli buku dan sebagainya selama masa belajar dan uang yang mungkin diperoleh lewat bekerja selama belajar atau kuliah, tetapi tidak didapat sebab waktu tersebut dipakai untuk belajar atau kuliah. Sementara yang menjadi outputnya adalah tambahan penghasilan peserta didik kalau sudah tamat dan bekerja, manakala orang ini sudah bekerja sebelum belajar atau kuliah. Dan apabila ia belum pernah bekerja yang menjadi outputnya adalah gaji yang diterima setelah tamat dan bekerja.

Dalam menghitung harga-harga produksi ekonomi ada berbagai kesulitan yang menghadang yaitu:
a) Jika peserta didik tamat, belum tentu ia segera bekerja,
b) Selama menunggu untuk mendapatkan pekerjaannya maka ia memutuskan untuk bekerja seadanya dengan penghasilan yang tidak tetap.
c) Kalaupun lulusan membuat usaha sendiri dengan modal seadanya, penghasilan tiap bulan tidak mungkin tertatur.
d) Kalaupun lulusan bisa bekerja dengan penghasilan tetap tiap bulan sangat mungkin dia mencari tambahan penghasilan diluar untuk meningkatkan nafkahnya.
e) Bila bekerja disektor swasta, penghasilannya sulit dihitung sebab upah atau gaji perusahaan bervariasi.

Dengan demikian fungsi produksi ekonomi akan bisa diaplikasikan dengan baik jika ada jaminan bahwa peserta didik segera bekerja setelah lulus sebagai Pegawai dengan gaji yang cukup sehingga tidak mencari tambahan pekerjaan diluar. Fungsi produksi ekonomi bertalian erat dengan marketing didunia pendidikan. Dalam hal ini Keuntungan marketing adalah a). Meningkatnya misi pendidikan secara sukses dan terselenggara dengan baik, sebab diisi dengan program yang baik, b). Kepuasan masyarakat ditingkatkan, c). Meningkatkan daya tarik terhadap petugas, peserta didik, dana, donatur, dan sebagainya, d). Meningkatkan efesiensi kegiatan pemasaran. Akan tetapi dalam marketing juga terdapat kelemahan adalah a). Ada kecederungan lembaga pendidikan selalu dijadikan usaha dagang untuk mendapatkan keuntungan, b). idealisme pendidikan cenderung diabaikan.
Menurut Mutrofin (1996) dalam Pidarta (2007:254), menyatakan bahwa negara-negara maju hubungannya antara pendidikan dengan pembangunan ekonomi sangatlah jelas, dimana sistem pendidikan diorientasikan kepada kebutuhan ekonomi yang didasari pada teknologi tinggi, fleksibelitas dan mobilitas angkatan kerja. Dalam masa pembangunan dinegara kita sekarang ini pengembangan ekonomi mendapat tempat strategis, dengan munculnya Link and Match, kebijaksanaan ini meminta dunia pendidikan menyiapkan tenaga-tenaga kerja yang sesuai dengan pasaran kerja, mencakup mutu, dan jumlah serta jenisnya.

C. FUNGSI DAN PERAN EKONOMI PENDIDIKAN
Peranan ekonomi dalam pendidikan cukup menentukan tetapi bukan sebagai pemegang peranan penting sebab ada hal lain yang lebih menentukan hidup matinya dan maju mundurnya suatu lembaga pendidikan dibandingkan dengan ekonomi, yaitu dedikasi, keahlian dan keterampilan pengelola guru-gurunya. Inilah yang merupakan kunci keberhasilan suatu sekolah atau perguruan tinggi. Artinya apabila pengelola dan guru-guru/dosen-dosen memiliki dedikasi yang memadai, ahli dalam bidangnya masing-masing dan memiliki keterampilan yang cukup dalam melaksanakan tugasnya, besar kemungkinan lembaga pendidikan akan sukses melaksanakan misinya, walaupun dengan ekonomi yang tidak memadai.
Fungsi ekonomi dalam pendidikan adalah untuk menunjang kelancaran proses pendidikan. Bukan merupakan modal yang dikembangkan dan juga mendapatkan keuntungan yang berlimpah, disini peran ekonomi dalam sekolah juga merupakan salah satu bagian dari sumber pendidikan yang membuat anak mampu mengembangkan afeksi, kognisi, dan keterampilan untuk menjadi tenaga kerja yang handal dan mampu menciptakan lapangan kerja sendiri, memiliki etos kerja dan bisa hidup hemat. Selain sebagai penunjang proses pendidikan ekonomi pendidikan juga berfungsi sebagai materi pelajaran dalam masalah ekonomi dalam kehidupan manusia.

Kegunaan ekonomi dalam pendidikan terbatas pada hal-hal:
1. Untuk membeli keperluan pendidikan yang tidak dapat dibuat sendiri atau bersama para siswa, orang tua, masyarakat atau yang tidak bisa dipinjam dan ditemukan di lapangan, seperti : prasarana dan sarana, media, alat peraga, barang habis pakai, dan materi pelajaran.
2. Membiayai semua perlengkapan gedung seperti air, listrik, telepon, televisi, dan radio.
3. Membayar jasa segala kegiatan pendidikan, seperti : pertemuan-pertemuan, perayaan-perayaan, panitia-panitia, darmawisata, pertemuan ilmiah, dan sebagainya.
4. Mengembangkan individu yang berperilaku ekonomi, seperti; hidup hemat, bersikap efisien, memiliki keterampilan produktif, memiliki etos kerja, mengerti prinsip-prinsip ekonomi.
5. Memenuhi kebutuhan dasar dan keamanan para personalia pendidikan.
6. Meningkatkan motivasi kerja.
7. Membuat para personalia pendidikan lebih bergairah bekerja.

Sumber-sumber dana pendidikan yang mungkin bisa diperoleh :
1. Dari pemerintah dalam bentuk proyek-proyek pembangunan, penelitian-penelitian bersaing, pertandingan karya ilmiah anak-anak dan perlombaan-perlombaan lainnya.
2. Dari kerjasama dengan instansi lain, baik pemerintah, swasta maupun dunia usaha. Kerja sama ini bisa dalam bentuk proyek penelitian, pengabdian kepada masyarakat, dan proyek pengembangan bersama.
3. Membentuk pajak pendidikan. Program ini bisa dirancang bersama antara lembaga pendidikan dengan pemerintah setempat dan masyarakat, dengan cara ini bukan saja orang tua siswa yang membayar dana pendidikan tetapi semua masyarakat.
4. Usaha-usaha lain, misalnya :
a. Mengadakan seni pentas keliling atau dipentaskan dimasyarakat.
b. Menjual hasil karya nyata anak-anak.
c. Membuat bazaar.
d. Mendirikan kafetaria.
e. Mendirikan toko keperluan personalia pendidikan dan anak-anak.
f. Mencari donator tetap.
g. Mengumpulkan sumbangan.
h. Mengaktifkan komite sekolah khusus dalam meningkatkan dana pendidikan.

Menurut jenisnya pembiayaan pendidikan dibagi atas :
1. Dana rutin adalah dana yang dipakai untuk membiayai kegiatan rutin seperti gaji, pendidikan, pengabdian masyarakat, penelitian dan sebagainya.
2. Dana pembangunan, adalah dana yang dipakai untuk membiayai pembangunan fisik diberbagai bidang artinya membangun prasarana dan sarana, alat belajar, media, dan kurikulum baru. Dana ini berasal dari pemerintah
3. Dana bantuan masyarakat, termasuk SPP, yang digunakan untuk membiayai hal-hal yang belum dibiayai oleh dana rutin dan pembangunan.
4. Dana usaha lembaga sendiri yang penggunaanya sama dengan butir 3 di atas.

Ada tiga macam perencanaan biaya pendidikan, yaitu :
1. Perencanaan sacara tradisional, yaitu dengan menentukan macam-macam kegiatan pendidikan, kemudian masing-masing kegiatan ditentukan biayanya.
2. SP4 (Sistem Perencanaan Penyusunan Program dan Penganggaran), Pengaturan jenis-jenis kegiatan dilakukan secara system, atau lembaga pendidikan dipandang sebagai system dari segi pembiayaan. Alokasi dana disusun atas dasar realita. Dan semua kegiatan diorientasikan kepada pencapaian tujuan pendidikan.
3. ZBB (Zero Base Budgeting), hanya direncanakan untuk satu tahun anggaran

Dalam pembentukan biaya pada setiap kegiatan haruslah memperhatikan: (Vaizey, 1969).
1. Perubahan harga di pasar.
2. Perubahan jumlah barang yang diperlukan.
3. Pertambahan jumlah siswa.
4. Peningkatan standar pendidikan.
5. Tingkat umur peserta didik.

Semua jenis dana dipertanggung jawabkan kepada badan atau organisasi pemberi dana :
1. Dana rutin dan dana pembangunan yang bersumber dari pemerintah bagi lembaga pendidikan negeri dipertanggung jawabkan dengan SPJ (Surat Pertanggungjawaban) yang disertai dengan bukti-bukti pembayaran yang sah.
2. Dana dari yayasan bagi lembaga pendidikan swasta dipertanggungjawabkan dalam bentuk laporan yang juga disertai bukti-bukti pembayaran yang sah.
3. Dana dari masyarakat baik pada lembaga pendidikan negeri maupun swasta dipertanggungjawabkan dalam laporan yang disertai bukti-bukti pembayaran yang sah kepada wakil-wakil masyarakat.
4. Dana yang diupayakan sendiri oleh lembaga pendidikan bersangkutan dipertanggungjawabkan kepada personalia lembaga yang juga disertai bukti-bukti pembayaran yang sah.

Dalam menyusun laporan pertanggungjawaban keuangan, perlu disertakan : (Gorton, 1983).
1. Berapa banyak uang yang terserap secara nyata.
2. Berapa banyak uang sisa.
3. Berapa banyak uang yang dibelanjakan, tetapi barang yang dibeli tidak dapat dipakai karena beberapa sebab. Sebab-sebab tersebut perlu dijelaskan.

D. EFISIENSI DAN EFEKTIVITAS DANA PENDIDIKAN
Efisiensi dalam menggunakan dana pendidikan adalah penggunaan dana yang harganya sesuai atau lebih kecil daripada produksi dan layanan pendidikan yang telah direncanakan. Sedangkan penggunaan dana pendidikan secara efektif adalah bila dengan dana tersebut tujuan pendidikan yang telah direncanakan bisa dicapai dengan relatif sempurna.
Pemerintah memandang perlu meningkatkan efisiensi pendidikan karena dana pendidikan sangat terbatas dan kedua, seperti halnya dengan departemen-departemen lain, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan mengalami banyak kebocoran dana. Untuk memanfaatkan dana yang sudah kecil ini secara optimal sangat diperlukan efisiensi dalam penggunaannya.

Menentukan tingkat efisiensi pendidikan dilakukan dengan :
1. Penggunaan uang yang sudah dialokasikan untuk masing-masing kegiatan.
2. Proses pada setiap kegiatan.
3. Hasil masing-masing kegiatan.

Efektivitas biaya ialah upaya untuk mengetahui apakah sejumlah biaya tertentu dapat memberikan hasil pendidikan yang sudah ditentukan. Carpenter (1972) mengemukakan prinsip umum menilai efektivitas sebagai berikut :
1. Menilai efektivitas adalah berkaitan dengan problem tujuan dan alat memproses input untuk menjadi output.
2. Sistem yang dibandingkan harus sama, kecuali alat pemrosesnya.
3. Mempertimbangkan semua output utama. Dalam pendidikan, yang dikatakan output utama adalah jumlah siswa yang lulus.
4. Korelasi diharapkan bersifat kausalitas. Yaitu korelasi antara cara memproses dengan output harus harus bersifat kausalitas.

III. PENUTUP
1. Dalam dunia pendidikan, faktor ekonomi bukan sebagai pemegang peran yang utama, melainkan sebagai pemeran yang cukup menentukan keberhasilan pendidikan sebab dengan ekonomi yang memadai dapat memenuhi semua fasilitas dan aktivitas dunia pendidikan.
2. Faktor yang paling menentukan kehidupan dan kemajuan pendidikan adalah dedikasi, keahlian, keterampilan pengelola dan guru atau dosen dalam setiap lembaga pendidikan.
3. Fungsi ekonomi pendidikan menunjang kelancaran proses pendidikan dan sebagai bahan pengajaran ekonomi untuk membentuk manusia ekonomi yaitu manusia yang dalam kehidupan sehari-harinya memilki kemampuan dan kebiasaan, seperti: memiliki etos kerja, tidak bekerja setengah- setengah, produktif, dan bisa hidup efesien/hemat.
4. Tiap lembaga pendidikan diupayakan mampu menghidupi diri sendir, dengan cara mencari sumber- sumber dana tambahan sebanyak mungkin guna memajukan dunia pendidikan dan dalam Penggunaan dana pendidikan haruslah secara professional dan efesien serta efektiv selanjutnya dapat dipertanggungjawabkan.
5. Dalam upaya membentuk sumber daya manusia yang produktif, maka sistem pendidikan, struktur kurikulum, serta jenis pendidikan diatur kembali selanjutnya biaya pendidikan ditingkatkan.
6. Tiap-tiap lembaga pendidikan diupayakan agar mampu menghidupi diri sendiri, dengan cara mencari sumber-sumber dana tambahan sebanyak mungkin, disamping menerima dana dari pemerintah atau yayasan.
7. Dana pendidikan perlu dikelola secara professional, pada umumnya direncanakan dengan SP4, pelaksanaannya diawasi secara ketat, dan dipertanggungjawabkan dengan bukti-bukti yang sah.
8. Semua penggunaan dana pada setiap kegiatan perlu dilakukan secara efisien dan efektif.
9. Pengembangan konsep fungsi produksi dalam pendidikan adalah untuk memudahkan menentukan efisiensi pendidikan.
10. Faktor-faktor utama yang diperhatikan dalam menentukan tingkat efisien pendidikan adalah:
a. Penggunaan uang
b. Proses kegiatan
c. Hasil kegiatan

REFERENSI

Pidarta, Made. 2007. Landasan Kependidikan (Stimulus Ilmu Pendidikan Bercorak Indonesia). Jakarta: PT. Rineka Cipta
Satmoko, Retno Sriningsih. 1999. Landasan Kependidikan (Pengantar ke arah Ilmu Pendidikan Pancasila). Semarang: CV. IKIP Semarang Press.
http://dwijakarya.blogspot.com/2009/01/01/landasan-ekonomi-dalam-pendidikan.html/accesed 11/10/20101.
http://widyastuti2406.wordpress.com/2009/10/17/landasan-ekonomi-pendidikan/accesed 11/10/2011

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Oktober 15, 2012 in Landasan Pendidikan

 

Tag: , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: