RSS

DASAR-DASAR PENGETAHUAN

14 Okt

A. MANUSIA DAN PENGETAHUAN
Manusia merupakan mahluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna dibandingkan mahluk hidup yang lain (hewan dan tumbuhan), karena manusia memiliki akal. Pengetahuan merupakan segala sesuatu yang diketahui manusia. Manusia memerlukan pengetahuan karena manusia mempunyai rasa ingin tahu tentang sesuatu, dan rasa ingin tahu itu selalu berkembang dari waktu ke waktu untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia yang selalu berubah dan meningkat dari waktu ke waktu. Penyebab pengetahuan dapat dikembangkan manusia karena dua hal utama yaitu :
1. Manusia mempunyai bahasa yang mampu mengkomunikasikan informasi dan jalan pikiran yang melatarbelakangi informasi tersebut.
2. Manusia mampu mengembangkan pengetahuannya dengan cepat dan mantap karena adanya kemampuan untuk berpikir menurut suatu alur kerangka pikir tertentu. Secara garis besar cara berpikir seperti ini disebut penalaran.

Cara Memperoleh Pengetahuan/Sumber Pengetahuan :
1. Wahyu : pengetahuan yang disampaikan oleh Tuhan kepada manusia. Kebenaran wahyu bersifat mutlak, tidak bisa dibantah.
2. Pengalaman
3. Otoritas/kewenangan/pakar/ahli : otoritas dari sumber pengetahuan tidak semuanya benar.
4. Berpikir deduktif : berpikir dari umum ke khusus, berdasarkan empiris (pengetahuan).
5. Berpikir induktif : berpikir dari khusus ke umum, gejala-gejala yang sama dari apa yang dilihat baru ditarik kesimpulan (rasionalitas).
6. Metode ilmiah : gabungan dari dua cara berpikir ilmiah (deduktif-induktif). Ilmu merupakan bagian dari pengetahuan yang diperoleh dari metode ilmiah.

Auguste Comte (1798-1857) membagi tiga tingkat perkembangan pengetahuan ke dalam tahap yaitu :
1. Religius yang dijadikan postulat ilmiah, sehingga ilmu merupakan penjabaran dari ajaran religi.
2. Metafisika (keberadaan) ujud yang menjadi obyek penelaahan yang terbebas dari dogma religi, dan mengembangkan sistem pengetahuan berdasarkan postulat metafisik tersebut.
3. Pengetahuan ilmiah yaitu asas-asas yang dipergunakan diuji secara positif dalam proses verifikasi yang obyektif.

Perbedaan Manusia dengan Hewan :
1. Makhluk berpikir (homo sapiens)
2. Mampu membuat alat/menggunakannya (homo fiber)
3. Dapat berbicara/berbahasa (homo longuens)
4. Hidup bermasyarakat (homo socius)
5. Hidup berekonomi (homo aeconomicus)
6. Menyadari adanya Tuhan yang Maha Esa (homo relijius)

B. FILSAFAT
Filsafat merupakan pemikiran/penelaahan tentang sesuatu secara mendalam, menyeluruh dan berkesinambungan. Penelaahan tentang hakikat dari sesuatu. Pertanyaan tentang apa, siapa, mengapa/ apa sebab, kapan, dimana, bagaimana, dan untuk apa mengenai sesuatu.
Karakteristik Berpikir Filsafat :
1. Menyeluruh (keluasan)
2. Mendasar (kedalaman)
3. Spekulatif (perkiraan)
Bidang Kajian Filsafat Ilmu :
Bagian dari filsafat pengetahuan yang membicarakan tentang :
• Apa? = ontologis (berbicara tentang apa itu ilmu)
• Bagaimana caranya? = epistemologis (cara-cara memperoleh ilmu/metode ilmiah)
• Untuk apa ilmu? = aksiologis
Cabang-Cabang Filsafat :
1. Logika (filsafat tentang benar-salah)
2. Etika (filsafat tentang baik-buruk)
3. Estetika (filsafat tentang indah-jelek), estetika dalam filsafat imu bersifat subjektif.
Etika/budaya di Indonesia :
– Tidak boleh memegang kepala
– Cara makan duduk

C. HAKEKAT PENALARAN
Penalaran merupakan suatu proses berpikir dalam menarik suatu kesimpulan yang berupa pengetahuan. Berpikir merupakan suatu kegiatan untuk menemukan pengetahuan yang benar. Tiap jalan pikiran mempunyai apa yang disebut sebagai kriteria kebenaran, dan kriteria kebenaran ini merupakan landasaan bagi proses penemuan kebenaran, dan tiap-tiap jenis penalaran mempunyai kriteria kebenarannya masing-masing.
Ciri-ciri penalaran yaitu :
1. Adanya suatu pola berpikir yang secara luas dapat disebut logika.
Dalam hal ini maka dapat kita katakan bahwa tiap bentuk penalaran mempunyai logikanya tersendiri atau kegiatan penalaran merupakan suatu proses berpikir logis. Berpikir logis di sini harus diartikan sebagai kegiatan berpikir menurut suatu pola tertentu, atau dengan kata lain, menurut logika tertentu.
2. Sifat analitik dari proses berpikirnya.
Penalaran merupakan suatu kegiatan berpikir yang menyandarkan diri kepada suatu analisis, dan kerangka berpikir yang dipergunakan untuk analisis tersebut adalah logika penalaran yang bersangkutan. Artinya penalaran ilmiah merupakan suatu kegiatan analisis yang mempergunakan logika ilmiah, dan demikian juga penalaran lainnya yang mempergunakan logikanya sendiri pula. Sifat analitik ini, kalau kita kaji lebih jauh, merupakan konsekuensi dari adanya suatu pola berpikir tertentu. Tanpa adanya pola berpikir tersebut maka tidak akan ada kegiatan analisis, sebab analisis pada hakekatnya merupakan suatu kegiatan berpikir berdasarkan langkah-langkah tertentu.

Tidak semua kegiatan berpikir mandasarkan diri kepada penalaran, tidak semua kegiatan bepikir bersifat logis dan analitis. Dengan demikian maka kita dapat membedakan secara garis besar ciri-ciri berpikir menurut penalaran dan berpikir yang bukan berdasarkan penalaran yaitu :
1. “Merasa” merupakan suatu cara penarikan kesimpulan yang tidak berdasarkan penalaran.
2. Intuisi merupakan suatu kegiatan berpikir yang non-analitik yang tidak mendasarkan diri kepada suatu pola berpikir tertentu. Pemikiran intuitif ini memegang peranan yang penting dalam masyarakat yang berpikir non-analitik, yang kemudian sering bergaul dengan perasaan.

Jadi secara luas dapat kita katakan bahwa cara berpikir masyarakat dapat dikategorikan pada berpikir analitik yang berupa penalaran dan cara berpikir yang non-analitik yang berupa intuisi dan perasaan.

D. LOGIKA
Logika adalah suatu penarikan kesimpulan baru yang dianggap sahih (valid) jika proses penarikan kesimpulan itu dilakukan manurut cara tertentu.
Dua jenis cara penarikan kesimpulan, yakni :
1. Logika induktif
Logika induktif erat hubungannya dengan penarikan kesimpulan dari kasus-kasus individual nyata menjadi kesimpulan yang bersifat umum.
2. Logika deduktif
Logika deduktif bertolak dari pernyataan yang bersifat umum menarik kesimpulan yang bersifat khusus. Penarikan kesimpulan secara deduktif biasanya mempergunakan pola berpikir yang dinamakan silogisme.

Pada dasarnya terdapat dua cara yang pokok bagi manusia untuk mendapatkan pengetahuan yang benar yaitu :
1. Rasio
Kaum rasionalis mengembangkan paham yang kita kenal dengan rasionalisme
2. Pengalaman.
Mereka yang mendasarkan diri kepada pengalaman mengembangkan paham yang disebut empirisme.

E. ONTOLOGIS ILMU
Ilmu (sains) itu apa ?
Bidang kajian ilmu :
1. Ilmu pengetahuan alam (IPA/Science) : yang dipelajari semua benda2 alam, semua ditinjau dari 3 aspek (fisik, kimiawi, biologis)
Contoh : – kimia (kimia tidak hanya manusia, tetapi hewan & tumbuhan juga ada)
2. Ilmu pengetahuan social (social science) : objek material/yang dikaji khusus manusia saja, ditinjau dari semua aspek kecuali fisik, kimiawi, biologis
Syarat ilmu :
1. Sesuai dengan logika, pengetahuan
2. Empiris/bisa dibuktikan secara fakta
Karakteristik IPA & IPS :
IPA IPS
• Eksak – Non eksak
• Keakuratannya tinggi – keakuratannya rendah
• Apa adanya – tidak apa adanya
• Perkembangannya pesat – jalan ditempat
• Menghasilkan teknologi – pemanfaatan teknologi

Kebenaran ada 2 :
1. Bersifat mutlak/absolut, kebenaran yg berasal dari wahyu
2. Kebenaran ilmiah bermula dari keraguan. Benar menurut logika, teori & kenyataan.
Kebenaran ilmiah (kajian ilmu) :
1. Sesuai dengan akal fikiran manusia
2. Sesuai dengan hasil penginderaan manusia (dilihat, didengar, dicium, dirasakan, dan diraba)
Ciri-ciri ilmu (kebenaran ilmiah) :
1. Obyektif : sesuai objeknya
2. Sistematis : ada suatu keteraturan
3. Metodologis : ada caranya
4. Relatif : tidak mutlak
5. Tentatif : tetap dipertahankan sebelum ada yang membantahnya atau ditemukannya ilmu yang baru
6. Skeptis : ragu (ilmu bermula dari suatu keraguan)

F. EPISTEMOLOGIS ILMU
Metode Ilmiah (Scientific Method)
• Timbul permasalahan
• Kajian teoritis
• Hipotesis
• Pengumpulan data
• Pengolahan/analisis data
• Pengujian hipoteis
• Kesimpulan/ generalisasi
Keterbatasan ilmu :
– Terbatas pada daya fikir manusia (hal-hal yang tidak masuk akal, bukan bidang kajian ilmu)
– Terbatas pada kemampuan penginderaan manusia
– Hal-hal yang tidak bisa diamati bukan bidang kajian ilmu
Perbedaan Antara Agama dan Ilmu :
Agama Ilmu
• Mutlak – Relatif, tentatif
• Sepanjang masa – Tidak sepanjang masa
• Bermula dari keyakinan – Bermula dari keraguan
• Diperdalam melalui ilmu – Memperkuat keyakinan agama
• Tidak bisa dibantah – Bisa diperdebatkan

G. AKSIOLOGIS ILMU
Ilmu itu untuk apa dan untuk siapa?
Fungsi Ilmu :
• Menjelaskan
• Memprediksi
• Mengendalikan
Sikap Ilmiah :
• Rasa ingin tahu
• Jujur
• Obyektif
• Skeptis
• Kritis
• Peduli lingkungan
• Menghargai pendapat orang lain

H. KRITERIA KEBENARAN
Kebenaran adalah suatu pernyataan tanpa ragu. Untuk menentukan kepercayaan dari sesuatu yang dianggap benar, Menurut (Mawardi, Imam. 2008) para filosof bersandar kepada 3 cara untuk menguji kebenaran, yaitu :
1. Teori Korespondensi
Teori Korespondensi suatu pernyataan adalah benar jika materi pengetahuan yang dikandung pernyataan itu berkorespondensi (berhubungan) dengan obyek yang dituju oleh pernyataan tersebut (Suriasumantri, 1990:57).
Menurut teori koresponden, ada atau tidaknya keyakinan tidak mempunyai hubungan langsung terhadap kebenaran atau kekeliruan, oleh karena atau kekeliruan itu tergantung kepada kondisi yag sudah ditetapkan atau diingkari. Jika sesuatu pertimbangan sesuai dengan fakta, maka pertimbangan ini benar, jika tidak, maka pertimbangan itu salah (Jujun, 1990:237).

2. Teori Koherensi
Berdasarkan teori ini suatu pernyataan dianggap benar bila pernyataan itu bersifat koheren atau konsisten dengan pernyataan-pernyataan sebelumnya yang dianggap benar (Jujun, 1990:55)., artinya pertimbangan adalah benar jika pertimbangan itu bersifat konsisten dengan pertimbangan lain yang telah diterima kebenarannya, yaitu yang koheren menurut logika.
Kelompok idealis, seperti Plato juga filosof-filosof modern seperti Hegel, Bradley dan Royce memperluas prinsip koherensi sehingga meliputi dunia; dengan begitu maka tiap-tiap pertimbangan yang benar dan tiap-tiap sistem kebenaran yang parsial bersifat terus menerus dengan keseluruhan realitas dan memperolah arti dari keseluruhan tersebut (Titus, 1987:239). Meskipun demikian perlu lebih dinyatakan dengan referensi kepada konsistensi faktual, yakni persetujuan antara suatu perkembangan dan suatu situasi lingkungan tertentu.

3. Teori Pragmatisme
Teori Pragmatisme dicetuskan oleh Charles S. Peirce (1839-1914) dalam sebuah makalah yang terbit pada tahun 1878 yangberjudul “How to Make Ideals Clear”. Teori ini kemudian dikembangkan oleh beberapa ahli filsafat yang kebanyakan adalah berkebangsaan Amerika yang menyebabkan filsafat ini sering dikaitkan dengan filsafat Amerika. Ahli-ahli filasafat ini di antaranya adalah William James (1842-1910), John Dewey (1859-1952), George Hobart Mead (1863-1931) dan C.I. Lewis (Jujun, 1990:57)
Pragmatisme adalah suatu aliran yang mengajarkan bahwa yang benar ialah apa yang membuktikan dirinya sebagai benar dengan perantaraan akibat-akibatnya yang bermanfaat secara praktis. Pegangan pragmatis adalah logika pengamatan dimana kebenaran itu membawa manfaat bagi hidup praktis dalam kehidupan manusia.

4. Teori Positivisme
Teori Positivisme dirintis oleh August Comte (1798-1857), yang dianggap sebagai Bapak ilmu Sosiologi Barat. Positivisme adalah cara pandang dalam memahami dunia dengan berdasarkan Sains. Positivisme sebagai perkembangan Empirisme yang ekstrem, adalah pandangan yang menggangap bahwa yang dapat diselidiki atau dipelajari hanyalah “data-data yang nyata/empirik”, atau yang mereka namakan positif. Penganut paham Positivisme meyakini bahwa hanya ada sedikit perbedaan (jika ada) antara ilmu social dan ilmu alam, karena masyarakat dan kehidupan sosial berjalan berdasarkan aturan-aturan, demikian juga alam.

5. Teori Esensialisme
Esensialisme adalah pendidikan yang didasarkan kepada nilai-nilai kebudayaan yang telah ada sejak awal peradaban umat manusia. Esensialisme muncul pada zaman Renaissance dengan ciri-ciri utama yang berbeda dengan progresivisme. Perbedaannya yang utama ialah dalam memberikan dasar berpijak pada pendidikan yang penuh fleksibilitas, serta terbuka untuk perubahan, toleran dan tidak ada keterkaitan dengan doktrin tertentu. Esensialisme berpendapat bahwa dunia ini dikuasai oleh tata yang tiada cela yang mengatur dunia beserta isinya dengan tiada cela pula.

6. Teori Konstruktivisme
Teori Konstruktivisme didefinisikan sebagai pembelajaran yang bersifat generatif, yaitu
tindakan mencipta sesuatu makna dari apa yang dipelajari. Konstruktivisme sebenarnya bukan merupakan gagasan yang baru, apa yang dilalui dalam kehidupan kita selama ini merupakan himpunan dan pembinaan pengalaman demi pengalaman. Ini menyebabkan seseorang mempunyai pengetahuan dan menjadi lebih dinamis.

7. Teori Religiusisme
Teori Religiusisme memaparkan bahwa manusia bukanlah semata-mata makhluk jasmaniah, tetapi juga makhluk rohaniah. Oleh Karen itu muncullah teori religious ini yang kebenarannya secara ontologis dan aksiologis bersumber dari sabda Tuhan yang disampaikan melalui wahyu. Secara pasti, kita tidak akan mendapatkan kebenaran mutlak, dan untuk mengukur kebenaran dalam filsafat sesungguhnya tergantung kepada kita oleh metode-metode untuk memperoleh pengetahuan itu.
Bertrand Russell dalam bukunya The Problems of Philosophy, menulis “Kebenaran dan Kesesatan”. Dualisme ini sepanjang sejarah kehidupan tidak akan pernah terpisahkan, karena anggapan kebenaran berkaitan dengan adanya kesesatan. Suatu kebenaran muncul saat asumsi kesesatan itu mengiringinya. Manusia sebagai makhluk pencari kebenaran dalam perenungannya akan menemukan tiga bentuk eksistensi, yaitu agama, ilmu pengetahuan, dan filsafat. Agama mengantarkan pada kebenaran, dan filsafat membuka jalan untuk mencari kebenaran. Sedangkan ilmu pengetahuan pada hakikatnya adalah kebenaran itu sendiri, karena manusia menuntut ilmu dengan tujuan mencari tahu rahasia alam agar gejala alamiah tersebut tidak lagi menjadi misteri.

Teori koheren dan teori koresponden, kedua-duanya dipergunakan dalam cara berpikir ilmiah. Penalaran teoretis yang berdasarkan logika deduktif jelas mempergunakan teori koheren ini. Sedangkan proses pembuktian secara empiris dalam bentuk pengumpulan fakta-fakta yang mendukung suatu pernyataan mempergunakan teori koresponden. Pemikiran ilmiah juga mempergunakan teori kebenaran yang lain, yang disebut teori kebenaran pragmatis.

Sumber :

Adib, Mohammad. 2009. Filsafat Ilmu. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
Mawardi ,Imam. 2008. Kebenaran Dalam Perspektif Filsafat Ilmu. Online: (http://mawardiumm.blogspot.com/2008/02/kebenaran-dalam-perspektif-filsafat.html, diakses tanggal 19 September 2011)
Suriasumantri, Jujun. 2003. Filsafat ilmu Sebuah Pengantar Populer. Jakarta : Pustaka Sinar Harapan.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Oktober 14, 2012 in Filsafat Ilmu

 

Tag: ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: